BOGOR — Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu kekuatan penting dalam menggerakkan perekonomian Kabupaten Bogor. Namun, di tengah persaingan usaha dan gejolak ekonomi global, pelaku UMKM masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari akses modal, perizinan, pasar hingga digitalisasi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam gagasan “KADIN Bersama UMKM” yang mendorong kolaborasi antara Kamar Dagang dan Industri (Kadin), pemerintah, dunia usaha, dan pelaku UMKM.

Dalam tulisan Ir. Yonathan Nugraha, kepemimpinan baru KADIN Kabupaten Bogor periode 2026–2031 di bawah Hilal Firmansyah diharapkan mampu menghadirkan organisasi yang tidak hanya menjadi wadah pengusaha besar, tetapi juga menjadi jembatan bagi pengusaha kecil untuk berkembang.

“UMKM tidak ingin dikasihani. UMKM ingin diberi kesempatan,” tulis Yonathan.

Menurutnya, keberpihakan kepada UMKM bukan berarti memberikan belas kasihan, melainkan menciptakan ekosistem usaha yang adil melalui akses pasar, pembiayaan, pendampingan, dan kemitraan.

Tiga Strategi Kolaborasi

Ada tiga langkah yang dinilai dapat diperkuat KADIN Kabupaten Bogor.

Pertama, menjadikan KADIN sebagai rumah advokasi dan inkubasi UMKM. Programnya dapat berupa pendampingan perizinan, sertifikasi halal, HKI, pembukuan, pemasaran hingga digitalisasi usaha.

Kedua, memperkuat kemitraan antara UMKM dan industri besar. KADIN dapat menjadi penghubung agar pelaku usaha lokal memiliki kesempatan masuk dalam rantai pasok industri, hotel, restoran maupun proyek konstruksi.