KOTA BOGOR, WWB.CO.ID – Permasalahan pembangunan Bumi Ageung Batutulis sekaligus Museum Pajajaran masih menjadi perbincangan di kalangan para budayawan Kota Bogor, khususnya Budayawan yang tergabung dalam Masyarakat Peduli Bumi Ageung.
Permasalah tersebut mencuat lantaran material yang digunakan untuk pembangunan dinilai tidak sesuai dengan spek atas dasar mufakat atau perjanjian dengan para budayawan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor Iceu Pujiati engan memberikan tanggapan terkait persoalan tersebut lantaran untuk menjaga kondusifitas. “Intinya Pemerintah Kota Bogor membangun museum untuk budayawan dan masyarakat Kota Bogor,” ungkap Iceu ditemui di Kantornya, Rabu (03/1/24).
Terkait Pemberitaan hampura (mohon maaf) karena kita juga ingin cooling down (pendinginan) meren bahasana mahnya. (bahasanya). Akan tetapi, menurut Iceu benar dan tidaknya tentu nanti akan di panggil oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). ” Yasudah kita lihat saja nanti hasil pemeriksaan,” imbuhnya.
“Pastinya kita ini bekerja harus sesuai aturan dan tidak menyalahi aturan. Adapun aspirasi masyarakat Insyaallah, selama aspirasi itu tidak menyalahi aturan pastinya kita akan akomodir,” sambung Iceu.
Sebelumnya Masyarakat Peduli Bumi Ageung Batutulis Bogor telah menolak pembangunan tersebut, hingga muncul kesempatan antara Pemkot Bogor dalam hal ini Dinas Kebudayaan, Kontraktor dan masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Juru bicara Masyarakat Peduli Bumi Ageung Batutulis Lutfi Suyudi dalam Pres Konpres di Jalan Batutulis Bogor, belum lama ini.
Lutfi pun menilai Pemerintah Kota Bogor dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata membohongi masyarakat dengan memaksakan pembangunan Gedung yang belum lama ini diresmikan Walikota Bogor Bima Arya, menggunakan material yang tidak tepat sesuai dengan kesepakatan.
“Pembangunan ini dipaksakan, padahal dinding yang harusnya mengunakan bata merah itu malah menggunakan hebel. Hal itu tentunya melanggar kesepakatan yang sudah dibuat sebelumnya antara pihak Disbudpar dan kami masyarakat,” terangnya.
Selain dinding bangunan, masih kata Lutfi, material kusen dan atap (genteng) juga dinilai tidak sesuai. Oleh karena itu, Lutfi menilai pembangunan yang menghabiskan anggaran sebesar Rp. 16 Milyar ini tidak akan bertahan hingga puluhan tahun.
.png)
.png)