Hujan deras mengguyur tanpa henti. Air sungai meluap, membawa tumpukan plastik, styrofoam, dan limbah rumah tangga yang menyumbat saluran drainase. Di sejumlah wilayah, banjir datang bukan hanya karena curah hujan tinggi, tetapi juga karena sampah yang dibuang sembarangan dan tidak dipilah sejak dari rumah. Di tempat lain, gunungan sampah yang terus meninggi mengancam longsor, sementara asap pembakaran sampah menyelimuti permukiman warga.

Para ahli menegaskan bahwa solusi besar sering kali dimulai dari langkah sederhana: memisahkan sampah sejak dari rumah.

Menurut laporan What a Waste dari Bank Dunia, pengelolaan sampah yang buruk dapat mencemari badan air, menyumbat drainase, memicu banjir, serta meningkatkan risiko penyakit bagi masyarakat. 

Sampah yang Tidak Dipilah Bisa Berujung Bencana

Ketika sampah organik bercampur dengan plastik, logam, dan bahan lainnya, proses daur ulang menjadi jauh lebih sulit. Akibatnya, sebagian besar sampah berakhir di tempat pembuangan akhir yang kapasitasnya terus menipis.

Laporan terbaru Bank Dunia menunjukkan bahwa dunia menghasilkan sampah lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Jika tidak ada perubahan signifikan, volume sampah global diperkirakan terus meningkat hingga tahun 2050. 

Ancaman itu bukan sekadar teori. Awal 2026, terjadi longsor gunungan sampah di TPST Bantargebang, Bekasi, akibat tingginya akumulasi sampah. Peristiwa tersebut bahkan menyebabkan beberapa truk terperosok ke area sekitar lokasi longsor. 

Memilah Sampah Melindungi Lingkungan dan Kesehatan

Pakar teknik lingkungan Jenna Jambeck, yang dikenal melalui penelitian global tentang pencemaran plastik laut, menjelaskan bahwa kualitas pengelolaan sampah menjadi faktor utama yang menentukan banyaknya sampah yang bocor ke lingkungan dan akhirnya mencapai lautan. Penelitiannya memperkirakan jutaan ton sampah plastik dari daratan masuk ke laut setiap tahun akibat sistem pengelolaan yang tidak memadai.Â