JAKARTA - Narasi yang membenturkan kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dengan penanganan gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) beredar di media sosial. Narasi tersebut memberi kesan bahwa Prabowo lebih memprioritaskan karhutla ketimbang menemui masyarakat terdampak gempa Flores. Namun, kronologi penanganan gempa NTT menunjukkan bahwa respons pemerintah telah berjalan sejak gempa terjadi pada 15 Agustus 2026, jauh sebelum Prabowo melakukan kunjungan langsung.
Perdebatan muncul karena Prabowo lebih dahulu melakukan peninjauan dan evaluasi penanganan karhutla Kalimantan, sementara kunjungan langsung ke wilayah terdampak gempa NTT baru dilakukan pada 26 Agustus 2026. Kehadiran kepala negara di lokasi bencana memang memiliki nilai simbolik bagi masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit. Namun, kritik mengenai waktu kunjungan perlu dibedakan dari kesimpulan bahwa pemerintah tidak melakukan penanganan terhadap gempa NTT.
Pemerintah Bergerak Sejak Gempa Melanda
Gempa yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, terjadi pada 15 Agustus 2026. Berdasarkan keterangan Sekretariat Negara, arahan Presiden Prabowo langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan bantuan dan personel. Sejumlah pejabat pemerintah pusat ditugaskan menuju wilayah terdampak, termasuk Labuan Bajo dan Maumere.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Sosial, Kementerian Kesehatan, TNI-Polri, PLN, Pertamina, Telkom, dan unsur terkait lainnya terlibat dalam respons bencana. Pada fase awal, pemerintah mengirimkan 27 ton logistik melalui penerbangan menuju NTT. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan pengiriman tersebut dilakukan dalam beberapa kloter penerbangan.
"Ini adalah kloter terakhir penerbangan hari Sabtu. Dari total 27 ton logistik sudah terkirim ke NTT dengan berbagai kloter penerbangan Hercules di hari itu juga," ujar Teddy Indra Wijaya, sebagaimana dikutip Sekretariat Negara.
Pada tahap berikutnya, pemerintah kembali mendatangkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Sekretariat Negara juga mencatat pengerahan lebih dari 3.500 personel TNI-Polri untuk mendukung penanganan di wilayah terdampak. Fakta ini menunjukkan bahwa penanganan gempa tidak baru dimulai ketika Presiden tiba di NTT pada 26 Agustus. Kunjungan Presiden secara fisik memang baru terjadi pada hari tersebut, tetapi operasi kebencanaan telah berlangsung sejak hari pertama.
Bantuan Gempa NTT Capai Ribuan Ton
Skala bantuan yang masuk ke NTT juga dapat dilihat dari data logistik yang dihimpun BNPB. Berdasarkan data yang dipublikasikan Katadata/Databoks, hingga 26 Agustus 2026, total logistik bantuan gempa NTT yang terkumpul mencapai 2.158,55 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.681,73 ton atau 77,9 persen telah dikirim. Distribusi bantuan diarahkan menuju pos pendukung di Labuan Bajo dan Maumere, yang menjadi titik penting dalam mendukung penyaluran bantuan ke wilayah terdampak.
.png)
.png)