JAKARTA,WWB.co.id – Air merupakan kebutuhan utama dari manusia, seperti sudah kita sadari bersama bahwa air tanah Jakarta menjadi tumpuan harapan warga DKI dalam pemenuhan kebutuhan air bersih. Hal ini dimungkinkan karena sistem penyediaan air bersih yang sudah ada tidak menjangkau semua warganya. 
Hal tersebut disampaikan, Direktur Eksekutif Institute for Enverionment and Sustainable Studies (IESS) Mulyawan melalui pres release yang diterima redaksi via WhatsApp mesengger, Senin (20/09/21).
Menurutnya, laju penurunan muka tanah adalah 6cm/ tahun. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan air tanah. Kalau penggunaan air tanah besar kemungkinan menyebabkan subsiden. Jakarta kehilangan begitu banyak air tanah, terbukti dengan penerimaan pajak air tanah sebesar 78,58 Milliar Rupiah sedangkan pendapatan PAM jaya 2,7 Teriliun Rupiah, lantas siapa yang harus bertanggung jawab? 
Kebutuhan standar penggunaan air 150 liter/hari 10,6juta jiwa maka kebutuhan air di DKI Jakarta mencapai 1,58 Miliar Liter setiap harinya. Sampai hari ini PAM Jaya sebagai unit penyedia air di DKI Jakarta hanya mampu memenuhi sekitar 50-60%nya, bahwa betul PAM Jaya belum mampu memenuhi 100% kebutuhan air, ini lantas bukan menjadi alasan untuk mengekstraksi air tanah secara berlebihan. Pendapatan dari pajak penggunaan air tanah sangat tidak sebanding dengan pendapatan pajak yang didapatkan DKI Jakarta.   
  
Dampak penggunaan air tanah yang berlebihan ini, lanjutnya, akan menjadi bencana bagi DKI Jakarta jika tidak segera dilakukan perbaikan-perbaikan serta evaluasi secara holistik. Oleh karena itu, ia meminta semua pihak untuk melakukan kerjasama seperti Apartemen, Hotel, dan Gedung-Gedung tinggi di DKI Jakarta serta meminta Pemerintah Provinsi DKI Segera melakukan dokumentasi sumur-sumur air tanah yang digunakan warga. 
Halaman:
M
Penulis: Manan