Opini — Richard E.G.A. Angkuw, SH., MH.

‎Tahun 2026 bukan sekadar tahun pergantian kalender. Dunia sedang menghadapi perubahan besar dalam peta ekonomi dan geopolitik. Persaingan negara-negara besar, perang dagang, konflik bersenjata, ancaman siber, hingga gangguan rantai pasok menjadi tekanan yang saling berkaitan.
‎Indonesia mungkin masih mencatat pertumbuhan ekonomi positif. Namun, angka makro tersebut tidak boleh membuat kita lengah.

‎Di balik stabilitas ekonomi, terdapat sejumlah ancaman yang berpotensi memengaruhi ketahanan nasional. Karena itu, Indonesia perlu membaca perubahan global secara lebih strategis, bukan sekadar bereaksi setelah krisis terjadi.

‎Setidaknya ada enam dimensi ancaman yang perlu mendapat perhatian serius.

‎1. Proteksionisme Global dan Ancaman Perang Dagang
‎Kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang semakin proteksionis menjadi salah satu tantangan bagi negara-negara mitra dagang, termasuk Indonesia.

‎Kenaikan tarif dan perubahan kebijakan perdagangan dapat menekan ekspor Indonesia, khususnya sektor manufaktur seperti tekstil, alas kaki dan elektronik.

‎Jika ketergantungan terhadap satu pasar terlalu besar, perubahan kebijakan di negara tujuan dapat langsung berdampak terhadap industri dalam negeri.

‎Karena itu, diversifikasi pasar ekspor menjadi kebutuhan. Indonesia perlu memperluas perdagangan dengan negara-negara Global South sekaligus memperkuat konsumsi domestik.

‎2. Indonesia di Tengah Persaingan AS dan Tiongkok
‎Persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok juga menjadi tantangan strategis.

‎Indonesia memiliki hubungan ekonomi yang besar dengan Tiongkok, terutama dalam investasi, infrastruktur dan industri pengolahan sumber daya alam. Pada saat yang sama, Amerika Serikat merupakan salah satu pasar penting bagi produk Indonesia.

‎Posisi Indonesia tidak mudah.

‎Terlalu condong kepada salah satu kekuatan dapat mengurangi ruang gerak diplomasi dan ekonomi Indonesia.

‎Karena itu, politik luar negeri bebas aktif harus diterjemahkan dalam bentuk strategi ekonomi yang konkret.

‎Indonesia harus mampu bekerja sama dengan berbagai kekuatan tanpa kehilangan kepentingan nasional.

‎Sumber daya strategis seperti nikel, tembaga dan bauksit harus digunakan sebagai modal negosiasi untuk mendapatkan investasi berkualitas, transfer teknologi dan penciptaan lapangan kerja.

‎3. Ancaman Gejolak Keuangan Global
‎Ketidakpastian ekonomi global juga dapat memengaruhi stabilitas rupiah dan pasar keuangan Indonesia.

‎Perubahan suku bunga negara maju, keluarnya modal asing, maupun konflik geopolitik dapat menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar.

‎Pelemahan rupiah yang tajam berpotensi meningkatkan harga barang impor, terutama energi dan bahan baku.

‎Karena itu, ketahanan devisa, penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal dan disiplin fiskal harus menjadi bagian dari strategi menghadapi gejolak global.

‎Indonesia tidak boleh menunggu krisis datang baru kemudian mencari solusi.

‎4. Oligarki dan Perebutan Aset Strategis

‎Ancaman berikutnya berasal dari kemungkinan bertemunya kepentingan bisnis besar dan kekuatan politik.


‎Investasi asing pada dasarnya bukan sesuatu yang harus ditolak. Justru investasi diperlukan untuk mempercepat pembangunan.

‎Namun, investasi harus memberikan manfaat yang adil bagi negara dan masyarakat.

‎Aset strategis seperti pertambangan, lahan, infrastruktur, serta data digital harus dikelola dengan prinsip transparansi dan kepentingan nasional.

‎Kontrak-kontrak strategis juga perlu diawasi secara ketat agar tidak menimbulkan kerugian jangka panjang.

‎Pada titik inilah pemberantasan korupsi menjadi bagian dari pertahanan ekonomi nasional.

‎Tanpa pemerintahan yang bersih, sumber daya Indonesia akan lebih mudah dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu.

‎5. Serangan Siber dan Spionase Ekonomi
‎Perang modern tidak lagi hanya berlangsung di darat, laut dan udara.
‎Ruang digital telah menjadi medan strategis baru. ‎Data pemerintahan, informasi kependudukan, rahasia dagang, sistem keuangan dan dokumen strategis dapat menjadi sasaran serangan siber.

‎Kebocoran data bukan hanya persoalan keamanan teknologi. Dalam situasi tertentu, data dapat digunakan untuk memengaruhi pasar, merusak reputasi lembaga negara atau mengganggu kepentingan strategis Indonesia.

‎Karena itu, penguatan keamanan siber nasional harus berjalan seiring dengan peningkatan literasi digital.

‎Aparatur negara, perusahaan strategis dan masyarakat harus memahami bahwa keamanan data merupakan bagian dari pertahanan nasional.

‎6. Konflik Global dan Gangguan Rantai Pasok
‎Perang dan ketegangan geopolitik di berbagai wilayah dunia dapat mengganggu distribusi energi, pangan dan bahan baku industri.

‎Ketika jalur perdagangan terganggu, harga komoditas dapat meningkat secara tiba-tiba.

‎Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah komoditas impor. Karena itu, ketahanan pangan dan energi harus menjadi prioritas nasional.

‎Swasembada tidak berarti menutup diri dari perdagangan internasional. Sebaliknya, Indonesia harus memiliki kemampuan produksi domestik yang cukup agar tidak mudah terguncang ketika pasokan global terganggu.

Hilirisasi juga harus diarahkan bukan sekadar meningkatkan ekspor bahan olahan, tetapi menciptakan industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri.

‎Lalu, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?
‎Menghadapi enam ancaman tersebut, Indonesia tidak bisa terus menggunakan pendekatan reaktif.

‎Diperlukan strategi ketahanan nasional yang terintegrasi.

‎Pertama, perkuat ketahanan pangan dan energi. Ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat tidak boleh terlalu bergantung pada kondisi geopolitik negara lain.

‎Kedua, perkuat diplomasi ekonomi. Sumber daya alam harus menjadi modal untuk memperoleh transfer teknologi, peningkatan kapasitas industri dan investasi yang memberikan nilai tambah bagi Indonesia.

‎Ketiga, bersihkan tata kelola pemerintahan dari korupsi dan praktik kolusi. Ketahanan ekonomi akan rapuh jika kebocoran terjadi dari dalam.

‎Keempat, tingkatkan literasi geopolitik masyarakat. Rakyat perlu memahami bahwa perubahan geopolitik global pada akhirnya dapat berdampak terhadap harga pangan, energi, lapangan pekerjaan dan daya beli.

‎Indonesia Harus Menjadi Subjek, Bukan Objek


‎Tahun 2026 seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara yang memiliki kemandirian strategis.

‎Kita tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk negara lain atau pemasok bahan mentah bagi industri global.

‎Indonesia memiliki sumber daya alam, jumlah penduduk, posisi geografis dan potensi ekonomi yang besar. Namun, semua itu hanya menjadi kekuatan jika dikelola dengan tata kelola yang baik dan strategi jangka panjang.

Ancaman global memang tidak semuanya dapat dikendalikan Indonesia. Tetapi dampaknya dapat diminimalkan jika negara memiliki persiapan yang matang.

‎Kedaulatan ekonomi tidak cukup dibangun melalui slogan.

‎Ia membutuhkan ketahanan pangan, energi yang aman, industri yang kuat, sistem keuangan yang sehat, keamanan digital, diplomasi yang cerdas, serta pemerintahan yang bersih.

‎Di tengah badai global, Indonesia tidak boleh panik. Tetapi juga tidak boleh tidur. ‎Karena dalam geopolitik, kelengahan bukan sekadar kelemahan. Kelengahan dapat berubah menjadi kekalahan.

Follow wwb.co.id
Follow on Google