Bogor - Keberadaan tradisi pengobatan tradisional di tengah perkotaan kerap perlahan-lahan tergerus zaman. Namun, di Kampung Muara Babadak, Sindang Rasa, Bogor Timur, denyut kearifan lokal tersebut masih bertahan melalui sosok seorang perempuan paruh baya yang akrab disapa Wa Amah. Beliau merupakan ma beurang atau paraji, serta penyembuh tradisional satu-satunya yang tersisa di wilayah tersebut. Pada Kamis (06/09/2026).
Wa Amah bukanlah orang baru dalam dunia pengobatan tradisional. Keahlian dan panggilan jiwa ini diwariskan langsung dari mendiang ibunya, Mak Elim, yang semasa hidupnya juga dikenal sebagai Ma beurang legendaris di kawasan yang sama. Setelah sang ibu tiada, Wa Amah meneruskan estafet pengabdian tersebut untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan non-medis bagi buah hati mereka.
Almarhumah Mak Elim, Ibunda Wa Amah, Saat mengobati seorang Anak di Sindang Rasa (Doc 2021 Irpan Alkeysar)
Meskipun zaman telah beralih ke era modern dengan fasilitas kesehatan yang kian mudah diakses, eksistensi Wa Amah tetap menjadi rujukan warga. Tamu-tamu dari berbagai wilayah, baik dari dalam maupun luar Bogor, masih sering berdatangan ke kediamannya. Mereka umumnya datang membawa bayi atau anak-anak yang rewel, sakit panas, mengalami gangguan pencernaan, atau keluhan fisik lainnya yang kerap dialami anak kecil.
Metode pengobatan yang diterapkan Wa Amah terbilang sederhana namun sarat akan sentuhan tradisional dan ampuh. Ia menggunakan minyak kelapa murni sebagai media utama untuk memijat lembut bagian tubuh anak yang sakit. Prosesi pijatan ini diiringi dengan pembacaan doa-doa khusus secara khusyuk, memohon kesembuhan kepada Sang Pencipta. Bagi para orang tua yang datang, kombinasi antara sentuhan fisik yang menenangkan dan doa penawar tersebut dipercaya mampu meredakan keluhan sang anak.
Sebagai generasi terakhir dari garis keturunan Ma beurang di Sindang Rasa, Wa Amah memikul peran kultural yang tidak kecil. Di tengah modernisasi Bogor Timur, keberadaannya bukan sekadar tempat berobat alternatif, melainkan juga penjaga tradisi leluhur yang merawat ikatan emosional dan kepercayaan komunal antarwarga.
Salah seorang warga, Sulista, menyampaikan bahwa jika ada gejala sakit kepada anak-anaknya maka ia selalu membawanya ke wa amah, ia menuturkan dalam sewaktu" anaknya pernah sakit sudah dibawa ke puskesmas, dokter, dan juga yang lainya, namun semuanya nihil, tetapi lewat wa amahlah allah memberikan kesembuhan.
" Kalau sakit panas, rewel, ga pusing tinggal bawa ke wa amah ajah, pernah dulu udah ke puskesmas, dokter, mantri tapi nihil... Sembuhnya malah setelah dibawa ke wa Amah" Ujarnya.

.png)
.png)