JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan media internasional, bertepatan dengan kehadiran Presiden Prabowo Subianto di Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada Kamis, 3 September 2026. Pemberitaan media asing menyoroti sejumlah laporan dugaan keracunan yang dialami siswa dan guru di beberapa daerah di Indonesia.

Media seperti Deutsche Welle (DW) dan Reuters melaporkan lebih dari 1.700 orang mengalami gangguan kesehatan dalam beberapa kejadian yang dikaitkan dengan makanan program tersebut. Insiden dilaporkan terjadi di Lasem (Jawa Tengah), Sidoarjo dan Nganjuk (Jawa Timur), serta Agam (Sumatera Barat).

Menariknya, di forum EEF, Presiden Prabowo justru mengangkat isu pemenuhan gizi dan ketahanan pangan sebagai prioritas pembangunan Indonesia. "Pembangunan tidak boleh hanya menguntungkan segelintir orang. Pembangunan harus diukur di meja makan keluarga biasa, apakah anak-anak menerima makanan bergizi?" ujar Prabowo dalam pidatonya, mengaitkan prinsip tersebut dengan pelaksanaan MBG, swasembada pangan, dan ketahanan energi.

Kontras ini menciptakan narasi yang berpotensi membentuk persepsi negatif terhadap keseluruhan program MBG. Namun, penting bagi publik untuk membedakan antara fakta kejadian, dugaan penyebab, hasil pemeriksaan, serta kesimpulan yang dibangun dari pemberitaan.

Sorotan Media Asing dan Kasus di Lapangan

Laporan DW, mengutip Reuters dan AFP, menyebutkan sedikitnya 725 siswa dan 25 guru di sebuah sekolah di Lasem mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan program. Lebih dari 600 siswa di Sidoarjo dilaporkan dirawat di rumah sakit, sementara kasus lain terjadi di Nganjuk dan Agam. Reuters mencatat adanya dugaan persoalan penyimpanan makanan dan keterlambatan distribusi.

Pemberitaan ini menjadi perhatian serius mengingat isu keamanan pangan dan perlindungan anak. Namun, penyebutan kasus sebagai "dugaan" sangat krusial hingga proses pemeriksaan memastikan penyebabnya. Pengalaman sebelumnya, seperti di Tulungagung, Jawa Timur, di mana 24 siswa SD Negeri 3 Bungur dilaporkan mengalami dugaan keracunan, menunjukkan bahwa pemerintah melakukan pemeriksaan mendalam, termasuk mengamankan sampel makanan untuk uji laboratorium.

Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Tulungagung, Sebrina Mahardika, kala itu menyatakan, "Kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan sumber penyebab gejala yang dialami siswa." Pernyataan ini menegaskan pentingnya tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum hasil investigasi tersedia.

Evaluasi dan Mekanisme Perbaikan MBG