LAMPUNG, WWB.co.id – Berdasarkan hasil penelitian UNESCO Tahun 2020 menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia masih sangat memprihatinkan, yakni hanya 0,001 persen.

Artinya, dari 1000 orang Indonesia hanya satu orang yang rajin membaca. Demikian halnya dengan minat baca mahasiswa Indonesia masih rendah di banding dengan Negara tetangga seperti Malaysia, Singapora dan Thailand.

Aktifitas para pelajar dan mahasiswa untuk memanfaatkan perpustakaan yang ada di Sekolah dan di Kampus – termasuk di Pondok Pesantren – masih sangat kurang. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Komunitas Minat Baca Indonesia (KMBI) provinsi Lampung, Gunawan Handoko saat menjadi narasumber pada acara Pelatihan Manajemen Perpustakaan Pondok Pesantren di Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, beberapa waktu lalu.

Namun demikian menurut Gunawan Handoko, kesalahan tidak bisa ditimpakan sepenuhnya kepada mahasiswa. Rendahnya minat baca para mahasiswa tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan di jenjang sebelumnya, yakni sejak tingkat Sekolah Dasar sampai Sekolah Lanjutan Tingkat Atas.

"Sistem pembelajaran di Indonesia selama ini belum membuat siswa merasa harus membaca buku lebih banyak dari apa yang disiapkan di sekolah," ungkap Gunawan Handoko seraya menambahkan bahwa selama ini buku pelajaran untuk para siswa sudah ditentukan oleh pihak sekolah, mulai dari judul, pengarang dan penerbitnya.

Akibatnya para siswa maupun orang tua tidak merasa perlu lagi mencari informasi tambahan atau pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan di sekolah. Hal lain menurut pak dhe – panggilan akrab Gunawan Handoko, dorongan dari para guru agar para siswa membaca buku secara rutin juga sangat kurang. Sementara perpustakaan Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi para siswa untuk mencari bahan bacaan tambahan, justru keberadaannya sangat kurang menarik.

Selain jumlah bukunya yang terbatas, kata dia, suasana ruangan yang ada juga kurang mendukung. "Rendahnya minat baca para siswa ini ternyata berlanjut sampai di tingkat Perguruan Tinggi," ujar pak dhe. Seraya mengajak untuk melihat data kunjungan yang ada di perpustakaan, berapa banyak jumlah mahasiswa yang berkunjung setiap harinya. Lalu bandingkan dengan jumlah seluruh mahasiswa yang ada di kampus tersebut.

Perpustakaan baru terlihat ramai di saat menjelang ujian karena banyak mahasiswa mencari sumber referensi dari buku ataupun untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen.

Dihari-hari biasa, sebagian mahasiswa lebih banyak menggunakan teknologi internet dibandingkan dengan membaca buku. Padahal faktanya membaca buku atau literatur sumber referensi justru sangat penting bagi mahasiswa. Tanpa sadar, mahasiswa sekarang pada umumnya lebih banyak diperalat oleh teknologi," paparnya.

Halaman:
M
Penulis: Manan